Israel Serang Warga di Dekat Titik Bantuan Gaza Tewaskan Puluhan Warga, WHO dan PBB Soroti Sistem Distribusi Baru
![]() |
Foto istimewa. |
INDOTIMES.ID, Jakarta - Insiden tragis kembali terjadi di Jalur Gaza selatan. Sebuah serangan mematikan dilaporkan menghantam kawasan dekat pusat distribusi bantuan di antara Kota Rafah dan Khan Yunis.
Menurut juru bicara Pertahanan Sipil Palestina, serangan ini diawali oleh tembakan dari pesawat nirawak Israel, disusul tembakan peluru dari tank-tank militer Israel yang menyebabkan banyak korban jiwa dan luka-luka.
“Pesawat nirawak menembaki warga. Beberapa menit kemudian, tank-tank menembakkan peluru. Akibatnya, banyak yang tewas dan terluka,” kata juru bicara tersebut dikutip detik.
Laporan awal menyebutkan setidaknya 50 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya mengalami luka-luka. Pernyataan ini belum bisa diverifikasi secara independen.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerima laporan serupa dan mencatat sedikitnya 20 korban jiwa.
Sementara itu, militer Israel mengklaim bahwa insiden terjadi setelah kerumunan warga mendekati tentara di dekat Khan Yunis, tempat sebuah truk bantuan terjebak. Militer Israel menyatakan sedang menyelidiki peristiwa tersebut dan menyampaikan penyesalan atas jatuhnya korban sipil.
“Kami menyesali jatuhnya korban dari pihak yang tidak terlibat dan berusaha meminimalkan dampak serangan. Namun, keselamatan pasukan kami juga harus dijaga,” ujar pernyataan militer Israel, tanpa merinci jumlah korban.
Kontroversi Sistem Distribusi Bantuan Baru
Insiden ini menyoroti kembali persoalan sistem distribusi bantuan yang semakin kompleks di Jalur Gaza. Saat ini, tanggung jawab distribusi sebagian besar bantuan yang masuk ke Gaza telah dialihkan kepada Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah yayasan baru yang didukung Amerika Serikat.
GHF mengklaim telah menyalurkan lebih dari tiga juta makanan di empat pusat bantuan yang dijaga oleh militer Israel, sebagai langkah untuk mencegah pasokan jatuh ke tangan Hamas. Namun, sistem ini menuai kritik tajam dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
PBB menyatakan bahwa cara distribusi bantuan oleh GHF tidak netral, tidak aman, dan jauh dari memadai. Sebelumnya, distribusi bantuan dijalankan oleh lembaga-lembaga internasional seperti UNRWA yang dianggap lebih menyeluruh dan terpercaya.
Saat ini, sekitar 2,3 juta warga Gaza hidup dalam kondisi darurat, kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Kekacauan dalam pendistribusian bantuan serta serangan di lokasi-lokasi distribusi memperburuk krisis kemanusiaan yang belum menunjukkan tanda mereda sejak konflik meletus kembali pada 7 Oktober 2023, usai serangan besar Hamas terhadap wilayah Israel.