Oleh: Anwar Sadat, S.T.
Ketua Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sumatera Selatan
HARI Pahlawan yang diperingati setiap 10 November bukan sekadar momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Lebih dari itu, peringatan ini harus menjadi pengingat bahwa semangat perjuangan perlu terus diwariskan dan diwujudkan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk perjuangan di sektor kesehatan dan lingkungan.
Momentum 10 November: Dari Perang Dunia II hingga Pertempuran Surabaya
Sejarah Hari Pahlawan tidak dapat dilepaskan dari rangkaian peristiwa besar dunia, khususnya Perang Dunia II yang berlangsung pada 1939–1945. Perang yang melibatkan Blok Poros dan Blok Sekutu tersebut turut memengaruhi perjalanan sejarah bangsa Indonesia.
Jepang yang melakukan ekspansi ke berbagai wilayah Asia menjadikan Indonesia sebagai salah satu wilayah strategis dan sumber bahan baku untuk kepentingan perang. Pada akhirnya, Jepang berhasil menguasai Indonesia setelah Belanda menyerah pada 1942.
Memasuki 1945, kekuatan Blok Poros mulai runtuh. Kekalahan Jerman dan Italia di Eropa, disusul menyerahnya Jepang kepada Sekutu pada Agustus 1945, menjadi titik penting yang membuka jalan bagi perjuangan bangsa Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Namun, kemerdekaan yang telah diproklamasikan bukan berarti perjuangan bangsa Indonesia berakhir. Kedatangan pasukan Sekutu, khususnya Inggris, yang bertugas melucuti tentara Jepang, justru memunculkan ketegangan baru karena turut diboncengi kepentingan Belanda melalui NICA untuk kembali menguasai Indonesia.
Situasi tersebut semakin memanas di Surabaya. Pada 25 September 1945, pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI mulai mendarat di Surabaya. Berbagai ketegangan dan bentrokan kemudian terjadi antara rakyat Indonesia dan pasukan Inggris.
Pada 30 Oktober 1945, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, pimpinan pasukan Inggris di Surabaya, tewas dalam sebuah insiden pertempuran. Peristiwa tersebut memicu kemarahan pihak Inggris.
Inggris kemudian mengeluarkan ultimatum agar rakyat dan para pejuang Indonesia menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945. Ultimatum tersebut ditolak oleh rakyat Surabaya. Akibatnya, pertempuran besar pun pecah.
Meskipun menghadapi pasukan dengan persenjataan yang jauh lebih modern, rakyat Surabaya tidak gentar. Tokoh-tokoh seperti Bung Tomo, K.H. Hasyim Asy'ari, dan K.H. Wahab Hasbullah turut membangkitkan semangat perjuangan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Semangat tersebut menjadi bukti bahwa kemerdekaan bukanlah hadiah, melainkan hasil perjuangan, pengorbanan, dan keberanian seluruh elemen bangsa.
Hari Pahlawan dan Penerus Perjuangannya
Kini, setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pejuang bangsa. Momentum ini seharusnya menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus untuk terus berjuang, berkarya, dan mengisi kemerdekaan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Salah satu bentuk perjuangan yang perlu mendapatkan perhatian serius adalah kepedulian terhadap kesehatan dan kelestarian lingkungan.
Kesehatan merupakan modal utama bagi masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas dan berkontribusi dalam pembangunan. Begitu pula lingkungan yang sehat dan terjaga merupakan salah satu faktor penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang berkualitas.
Hak atas kesehatan dan lingkungan yang baik bahkan telah dijamin secara konstitusional dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, antara lain:
- Pasal 28H ayat (1): Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.
- Pasal 34 ayat (3): Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
Dengan demikian, perjuangan di bidang kesehatan dan lingkungan bukan sekadar persoalan kepedulian sosial, melainkan juga bagian dari upaya mewujudkan hak-hak dasar masyarakat sebagaimana diamanatkan konstitusi.
Perjuangan Membangun Kesadaran Masyarakat terhadap Kerusakan Lingkungan
Kerusakan lingkungan merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian bersama. Kerusakan tersebut dapat disebabkan oleh faktor alam, tetapi aktivitas manusia menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat rusaknya keseimbangan ekosistem.
Beberapa bentuk kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia antara lain:
1. Penebangan liar (illegal logging). Penebangan pohon secara masif mengurangi kawasan resapan air dan meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, serta kerusakan ekosistem.
2. Pembakaran hutan. Aktivitas pembakaran untuk membuka lahan dapat memicu kebakaran hutan, kabut asap, pencemaran udara, dan hilangnya habitat berbagai satwa.
3. Pencemaran air. Pembuangan limbah industri dan sampah rumah tangga ke sungai maupun laut dapat merusak ekosistem perairan dan mengancam kehidupan biota air.
4. Pencemaran tanah. Penggunaan pestisida secara berlebihan serta penumpukan sampah plastik dapat menurunkan kualitas tanah dan mengganggu kesuburan lahan.
5. Pencemaran udara. Emisi kendaraan bermotor dan aktivitas industri menghasilkan polutan yang berdampak terhadap kesehatan manusia serta meningkatkan emisi gas rumah kaca.
6. Eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan. Penambangan pasir dan mineral tanpa memperhatikan aturan serta kelestarian lingkungan dapat memicu kerusakan lahan, abrasi, dan bencana ekologis.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan menjaga lingkungan membutuhkan kesadaran, keberanian, dan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam mengawasi, mencegah, dan menghentikan aktivitas yang merusak lingkungan.
Saatnya Menjadi Pahlawan di Bidang Kesehatan dan Lingkungan
Pada momentum Hari Pahlawan 10 November ini, sudah sepantasnya kita bersyukur dan memanjatkan doa bagi para pahlawan bangsa yang telah berjuang merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Namun, menghormati jasa para pahlawan tidak cukup hanya melalui upacara dan seremoni tahunan. Kita harus melanjutkan semangat perjuangan tersebut sesuai dengan kemampuan, keahlian, dan tanggung jawab masing-masing.
Jadilah pahlawan dalam kehidupan sehari-hari. Berjuanglah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan, memperjuangkan hak masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, serta menjaga lingkungan dari berbagai bentuk kerusakan.
Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengenang sejarah perjuangannya, tetapi juga bangsa yang berani menghadapi persoalan masa kini dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Dari Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sumatera Selatan, saya mengucapkan Selamat Hari Pahlawan 10 November.
Jayalah bangsaku. Jayalah Indonesia!
