![]() |
| Foto istimewa. |
Dalam pernyataan keras yang disiarkan media pemerintah, Iran bersumpah akan membalas dengan cepat dan menyasar setiap warga dan personel militer Amerika di kawasan Timur Tengah.
“Setiap warga negara Amerika atau personel militer di kawasan itu sekarang menjadi sasaran,” ujar seorang komentator di televisi pemerintah Iran.
Pernyataan tegas juga datang dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang menyatakan, “Perang dimulai sekarang juga,” tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
Respons Keras dan Ancaman Terbuka
Sebelumnya, Iran telah berulang kali memperingatkan akan melakukan pembalasan jika fasilitas nuklirnya diserang.
Menteri Pertahanan Iran, Aziz Nasirzadeh, pada 11 Juni lalu menegaskan bahwa “semua pangkalan AS berada dalam jangkauan kami dan kami akan dengan berani menargetkan mereka.”
Serangan ini memperburuk konflik yang telah berlangsung selama lebih dari sepekan, setelah Israel melancarkan serangan awal pada 13 Juni terhadap infrastruktur Iran.
Kini, situasi meningkat ke tingkat konflik militer langsung yang mengancam mengobarkan perang besar-besaran di Timur Tengah.
Serangan AS Gunakan Bom Penghancur Bunker
Serangan AS terhadap Iran dilakukan dengan menggunakan pesawat pembom siluman B-2, satu-satunya jenis pesawat yang dapat membawa bom penghancur bunker seberat 15.000 kilogram, senjata yang dirancang khusus untuk menembus target di bawah tanah, termasuk situs pengayaan uranium di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Bom jenis ini mampu menembus hingga 60 meter ke dalam tanah sebelum meledak, dan dapat dijatuhkan secara beruntun untuk menghancurkan fasilitas yang dikubur dalam.
Menurut laporan, beberapa bagian dari situs nuklir Fordow bahkan berada ratusan meter di bawah tanah, menjadikan bom ini satu-satunya opsi efektif yang dimiliki AS.
Israel Perketat Keamanan, Dunia Tegang
Menanggapi situasi ini, Kementerian Pertahanan Israel telah meningkatkan status siaga nasional dan membatalkan seluruh kegiatan publik non-esensial, termasuk sekolah, pertemuan umum, dan kegiatan kerja non-kritis.
Sementara itu, negara-negara Teluk dan kekuatan regional lainnya menyerukan penghentian eskalasi untuk mencegah perluasan konflik yang bisa mengancam stabilitas seluruh kawasan.
Keputusan Presiden Trump untuk langsung menyerang Iran menandai pergeseran besar dalam kebijakan luar negeri AS, yang selama ini berusaha menghindari keterlibatan langsung dalam konflik di Timur Tengah. Kini, Amerika terlibat penuh. (Red)

