indotimes.id, JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim sejumlah pejabat tinggi Iran telah menghubunginya secara langsung untuk meminta penghentian serangan militer yang dilancarkan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan Fox News, di tengah memanasnya situasi keamanan di kawasan Teluk Persia pasca-serangan Amerika Serikat terhadap sejumlah target di wilayah Iran yang berada di dekat Selat Hormuz.
Menurut Trump, komunikasi dari pejabat Iran menunjukkan adanya tekanan yang semakin besar terhadap Teheran akibat eskalasi konflik yang terus berlangsung. Ia bahkan mengindikasikan bahwa pihak Iran menginginkan jalan keluar diplomatik guna menghentikan serangan lanjutan.
"Para pejabat tinggi Iran menelepon dan meminta agar serangan dihentikan," ujar Trump seperti dikutip Fox News.
Meski demikian, Trump menegaskan operasi militer Amerika belum akan dihentikan sepenuhnya. Ia memperingatkan bahwa serangan lanjutan masih mungkin dilakukan apabila tidak tercapai kesepakatan dalam waktu dekat.
Koresponden Fox News, Trey Yingst, mengungkapkan bahwa dirinya berbicara langsung dengan Trump saat Presiden AS tersebut berada di Ruang Situasi Gedung Putih bersama Wakil Presiden JD Vance serta utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Dalam percakapan itu, Trump menggambarkan situasi yang terjadi sebagai salah satu gencatan senjata yang paling sering mengalami pelanggaran dalam sejarah modern.
Sebelumnya, Amerika Serikat mengakui telah melakukan serangan yang disebutnya sebagai langkah defensif di wilayah dekat Selat Hormuz. Media-media Iran melaporkan serangkaian ledakan terdengar di Bandar Abbas, Pulau Qeshm, Minab, dan Sirik.
Sementara itu, Iran membantah klaim trump tersebut, menyatakan Trump ingin lari dari perang ini.
"Itu dusta, kami tidak berbicara apapun sama sekali" Dilansir istagram gazaupdate, Kamis (11/06/2026)
Sejumlah sumber di Iran menyebut kawasan tersebut menjadi sasaran proyektil yang diduga diluncurkan oleh pihak musuh. Lokasi-lokasi tersebut memiliki posisi strategis karena berada di sekitar jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan yang menargetkan fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain. Media Iran melaporkan Armada Ke-5 AS menjadi salah satu sasaran dalam operasi tersebut.
Kantor berita Mehr dan Fars menyebut antena komunikasi serta fasilitas radar sistem pertahanan Patriot milik Armada Ke-5 menjadi target serangan gelombang pesawat nirawak Iran.
Menyusul serangan itu, otoritas Bahrain mengeluarkan peringatan serangan udara kepada masyarakat. Pemerintah setempat meminta warga tetap tenang dan segera menuju lokasi perlindungan terdekat guna mengantisipasi kemungkinan eskalasi lebih lanjut. (Red)
