Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Prabowo Tegaskan Politik Luar Negeri Bebas Aktif, Indonesia Harus Hadir di Semua Kekuatan Dunia

Rabu, Juni 10, 2026 | 17:32 WIB Last Updated 2026-06-10T10:32:28Z


indotimes.id, LAMPUNG – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan pentingnya menjaga hubungan baik dengan seluruh negara besar dunia sebagai bagian dari strategi diplomasi Indonesia yang bebas dan aktif.


Menurutnya, sebagai negara yang semakin diperhitungkan di tingkat global, Indonesia tidak boleh berpihak pada satu kekuatan tertentu dan harus mampu menjalin komunikasi dengan semua pihak.


Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Lampung, Rabu (10/6/2026).


Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang banyak dicari dan dihormati oleh berbagai negara karena konsisten menjaga hubungan persahabatan serta tidak ingin memiliki musuh.


“Indonesia sekarang disukai, Indonesia dicari karena Indonesia dikenal tidak mau punya musuh,” ujar Prabowo.


Presiden menilai posisi strategis Indonesia di tengah dinamika geopolitik dunia menuntut pemerintah untuk menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai negara besar, termasuk Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, India, hingga Brasil.


Prabowo menjelaskan, sebagai kepala negara yang mendapat mandat rakyat, dirinya tidak mungkin mengabaikan undangan resmi dari para pemimpin negara-negara besar dunia.


“Kalau Presiden Amerika Serikat mengundang Presiden Indonesia, tentu harus hadir. Begitu juga ketika Presiden Rusia mengundang, Presiden Tiongkok mengundang, maupun pemimpin negara besar lainnya,” katanya.


Menurut Prabowo, kehadiran Indonesia dalam berbagai forum internasional merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, teknologi, dan kepentingan nasional yang lebih luas.


Ia mencontohkan, Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, India, dan Brasil merupakan negara-negara dengan pengaruh besar terhadap perekonomian global. Karena itu, Indonesia perlu menjaga hubungan yang seimbang dengan seluruh mitra strategis tersebut.


“Sudah Presiden Amerika mengundang, Presiden Rusia mengundang juga. Saya hadir di Washington, tentu juga harus hadir di Moskow. Setelah itu diundang Presiden Xi Jinping, tentu hadir juga. India dengan penduduk 1,4 miliar jiwa dan teknologi yang maju, begitu juga Brasil,” ujarnya.


Prabowo menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan bentuk keberpihakan, melainkan implementasi politik luar negeri Indonesia yang mengedepankan persahabatan, kerja sama, dan kepentingan nasional.


Menurutnya, tantangan terbesar bagi Indonesia saat ini adalah bagaimana memanfaatkan hubungan baik dengan banyak negara untuk memperkuat pembangunan nasional, membuka peluang investasi, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.


“Ini adalah konsekuensi menjadi negara yang memiliki banyak sahabat. Indonesia adalah negara besar dan harus mampu menjaga hubungan baik dengan semua pihak,” tegasnya.


Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan komitmen pemerintah dalam mempertahankan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia di tengah persaingan geopolitik global yang semakin dinamis. (Red) 

×
Berita Terbaru Update