Harga BBM Subsidi Berpotensi Naik, Pemerintah Sebut Jadi Opsi Terakhir
indotimes.id, JAKARTA – Pemerintah melalui membuka peluang untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi seperti . Rencana tersebut muncul sebagai dampak dari melonjaknya harga minyak dunia yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Keuangan, , mengatakan kenaikan harga BBM subsidi akan menjadi pilihan terakhir jika tekanan harga minyak dunia terus meningkat dan membebani anggaran negara.
“Kalau memang anggarannya nggak kuat sekali, nggak ada jalan lain, kami berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya, ada kenaikan BBM,” ujar Purbaya dalam taklimat media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Sabtu (7/3).
Meski demikian, ia menegaskan pemerintah tidak akan terburu-buru mengambil keputusan tersebut. Menurutnya, kenaikan harga BBM baru akan dipertimbangkan apabila kemampuan (APBN) tidak lagi mampu menahan lonjakan harga minyak global.
Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan, defisit APBN berpotensi mencapai sekitar 3,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) apabila harga minyak dunia bertahan di kisaran US$ 92 per barel sepanjang tahun tanpa adanya intervensi pemerintah.
Purbaya menambahkan Indonesia pernah menghadapi situasi yang lebih berat ketika harga minyak dunia sempat menembus US$ 150 per barel. Saat itu, perekonomian nasional masih mampu bertahan meski mengalami perlambatan.
“Kita dulu pernah melewati keadaan di mana harga minyak sampai 150 dolar AS per barel. Jatuh nggak ekonominya? Agak melambat, tapi nggak jatuh. Jadi, kita punya pengalaman,” katanya.
Sebagai informasi, lonjakan harga minyak dunia saat ini dipicu konflik di Timur Tengah yang melibatkan , , dan . Data pasar menunjukkan harga minyak naik sekitar 4,93 persen menjadi US$ 85,41 per barel, sementara (WTI) melonjak 8,51 persen menjadi US$ 81,01 per barel.
Pemerintah menegaskan akan terus memantau perkembangan harga minyak global sebelum mengambil langkah kebijakan terkait subsidi BBM di dalam negeri. (Red)
