indotimes.id, JAKARTA – Harga emas dan perak dunia mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (18/6/2026) setelah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan mempertahankan suku bunga acuan namun memberikan sinyal bahwa peluang kenaikan suku bunga masih terbuka hingga akhir tahun.
Keputusan tersebut memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor pendek yang kemudian mengurangi daya tarik investasi pada logam mulia, khususnya emas.
Harga emas tercatat turun ke level 4.275 dolar AS per ons setelah sebelumnya menguat selama empat sesi perdagangan berturut-turut. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap instrumen berbunga yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi dibanding aset lindung nilai seperti emas.
Sejumlah anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memperkirakan inflasi inti di Amerika Serikat masih berpotensi bertahan pada level tinggi sehingga peluang kenaikan suku bunga belum sepenuhnya tertutup.
“Setengah dari anggota FOMC memperkirakan suku bunga masih berpotensi naik tahun ini karena inflasi inti diperkirakan tetap berada di atas target,” demikian gambaran proyeksi yang disampaikan dalam pertemuan kebijakan moneter The Fed.
Selain faktor suku bunga, permintaan emas sebagai aset safe haven juga mengalami penurunan setelah Amerika Serikat dan Iran menunjukkan komitmen untuk melanjutkan pembahasan menuju kesepakatan yang berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Tekanan juga terjadi pada pasar perak. Harga logam tersebut turun ke bawah 70 dolar AS per ons seiring meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat.
Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengumumkan pembentukan sejumlah tim kajian yang akan mengevaluasi kerangka kebijakan moneter, termasuk kemungkinan pengurangan neraca bank sentral. Langkah tersebut turut memengaruhi sentimen pasar terhadap logam mulia.
Meski demikian, prospek jangka menengah perak masih dinilai positif. Permintaan dari sektor industri diperkirakan tetap kuat seiring pesatnya pembangunan pusat data, pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta meningkatnya investasi pada sektor penyimpanan energi, terutama di Tiongkok.
Analis menilai faktor-faktor tersebut berpotensi menjadi penopang harga perak dalam beberapa tahun mendatang meskipun dalam jangka pendek pasar masih dibayangi ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

