Herman Deru Buka Ruang Dialog, Jawab Langsung Tiga Tuntutan Mahasiswa UIN Raden Fatah
Dalam dialog tersebut, mahasiswa menyampaikan tiga tuntutan utama yang berkaitan dengan perbaikan infrastruktur jalan, peningkatan layanan kesehatan, serta pemerataan akses pendidikan yang berkualitas. Mereka menyoroti kondisi Jalan Palembang–Betung yang rusak, pelayanan rumah sakit yang dinilai belum optimal, hingga adanya praktik kewajiban pembelian buku di sejumlah sekolah.
Herman Deru memilih menemui langsung para mahasiswa dan mendengarkan aspirasi yang disampaikan. Ia menilai aksi mahasiswa merupakan bagian dari kontrol sosial yang penting dalam pembangunan daerah.
“Saya di sini bukan hanya sebagai gubernur, tetapi juga sebagai orang tua bagi kalian. Aspirasi yang disampaikan ini menjadi masukan bagi pemerintah untuk terus melakukan perbaikan,” kata Herman Deru di hadapan para demonstran.
Menjawab persoalan infrastruktur, Herman Deru menjelaskan bahwa perbaikan Jalan Palembang–Betung terus dilakukan. Menurutnya, sejumlah titik yang sebelumnya menjadi kendala akibat pembangunan drainase dan gorong-gorong kini telah diperbaiki, sementara pekerjaan jalan terus dikebut setiap malam.
Ia juga menyampaikan bahwa pembangunan Tol Palembang–Betung ditargetkan selesai pada tahun ini, sementara perbaikan infrastruktur di wilayah lain, termasuk Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), tetap menjadi perhatian pemerintah provinsi.
Terkait sektor kesehatan, Herman Deru mengakui masih terdapat tantangan dalam pemerataan tenaga medis spesialis dan subspesialis di berbagai daerah di Sumatera Selatan. Karena itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan agar dapat diakses masyarakat secara lebih merata.
Sementara mengenai dunia pendidikan, Herman Deru menegaskan bahwa sekolah tidak dibenarkan mewajibkan siswa membeli buku pelajaran karena anggaran pengadaan buku telah disediakan pemerintah.
“Jika ada SMA atau SMK negeri yang mewajibkan siswa membeli buku, kepala sekolahnya akan segera dipanggil untuk dimintai penjelasan,” tegasnya.
Ia juga mengajak mahasiswa untuk terus berperan aktif memberikan kritik dan masukan yang membangun demi kemajuan daerah. Menurutnya, komunikasi yang baik antara pemerintah dan kalangan akademisi menjadi salah satu modal penting dalam mewujudkan pembangunan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Setelah mendapatkan penjelasan langsung dari gubernur, para mahasiswa membubarkan diri secara tertib. Dialog tersebut menjadi gambaran terbukanya ruang komunikasi antara pemerintah daerah dan mahasiswa dalam mengawal pembangunan Sumatera Selatan.
