indotimes.id, JAKARTA – Pertamina Patra Niaga mengungkapkan bahwa penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax pada Juni 2026 belum sepenuhnya mengikuti harga pasar. Kenaikan yang diterapkan hanya sekitar 50 persen dari selisih harga keekonomian yang berlaku di pasar internasional.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, mengatakan kebijakan tersebut diambil sebagai upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertimbangkan kondisi perekonomian nasional.
“Penyesuaian harga Pertamax yang dilakukan saat ini adalah 50 persen dari selisih harga pasar, dan jika dibandingkan dengan harga BBM sejenis di negara-negara tetangga ASEAN tetap lebih kompetitif agar menjaga daya beli dan perekonomian,” ujar Roberth dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, Pertamax dan produk BBM nonsubsidi lainnya memang mengikuti mekanisme harga pasar sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah. Karena itu, perubahan harga dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor ekonomi, termasuk perkembangan harga minyak dunia dan biaya pengadaan energi.
“BBM nonsubsidi seperti Pertamax Series merupakan produk yang harga jualnya disesuaikan dengan perkembangan kondisi pasar dan faktor-faktor ekonomi yang memengaruhi biaya pengadaan energi,” katanya.
Roberth menjelaskan, evaluasi harga BBM nonsubsidi pada dasarnya dilakukan secara berkala setiap bulan berdasarkan parameter keekonomian yang berlaku. Namun pelaksanaannya tetap mempertimbangkan kebijakan pemerintah serta kondisi masyarakat.
“Pada prinsipnya, harga BBM nonsubsidi dilakukan evaluasi secara berkala setiap bulan sesuai perkembangan parameter keekonomian. Namun demikian, implementasinya tetap memperhatikan kebijakan yang ditetapkan pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, Pertamina memastikan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan karena penetapannya berada di bawah kewenangan pemerintah.
Penyesuaian harga Pertamax yang berlaku sejak 10 Juni 2026 dilakukan di tengah fluktuasi harga energi global. Meski demikian, Pertamina menilai harga BBM nonsubsidi di Indonesia masih relatif kompetitif dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Kebijakan tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis energi nasional dan perlindungan terhadap daya beli masyarakat di tengah dinamika pasar energi internasional.

