indotimes.id, SAN DIEGO – Kopi Indonesia kembali menunjukkan taringnya di pasar global. Dalam ajang World of Coffee (WoC) 2026 yang berlangsung di San Diego Convention Center, Amerika Serikat, Indonesia berhasil membukukan potensi transaksi mencapai USD 34,7 juta atau setara Rp593,3 miliar.
Capaian tersebut menjadi bukti bahwa kopi Nusantara semakin diminati pasar internasional, khususnya Amerika Serikat yang merupakan salah satu importir kopi terbesar di dunia.
Atase Perdagangan RI di Washington D.C., Ranitya Kusumadewi, mengatakan potensi transaksi tersebut diperoleh selama tiga hari pelaksanaan pameran dan mencakup berbagai produk kopi Indonesia.
"Selama tiga hari pameran, Indonesia mencatatkan potensi transaksi sebesar USD 34,7 juta yang mencakup biji kopi mentah (green beans), kopi sangrai (roasted coffee), serta produk turunan kopi lainnya. Capaian ini belum termasuk berbagai penjajakan dari permintaan informasi yang berpotensi berkembang menjadi kontrak dagang dalam beberapa bulan ke depan," ujar Ranitya, Dikutip kemendag Senin, (15/6/2026).
Menurutnya, keikutsertaan Indonesia dalam World of Coffee 2026 menjadi langkah strategis untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat posisi kopi Indonesia di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Ranitya menjelaskan, pasar Amerika Serikat masih menjadi peluang besar bagi kopi Indonesia. Dengan nilai impor kopi mencapai sekitar USD 12,8 miliar per tahun, Negeri Paman Sam menjadi salah satu tujuan utama ekspor kopi nasional.
Selain transaksi dagang, Paviliun Indonesia juga menjadi pusat berbagai kegiatan promosi, mulai dari business matching, coffee cupping, coffee tasting hingga diskusi dengan pelaku industri kopi dunia.
"Sesi cupping menjadi salah satu sarana utama yang mempertemukan produsen Indonesia dengan calon pembeli internasional. Sesi ini memberi buyer kesempatan untuk mengevaluasi langsung kualitas dan karakteristik kopi Indonesia sesuai kebutuhan pasar," katanya.
Mengusung tema “Indonesia: Home of the Finest Coffee”, Paviliun Indonesia menampilkan beragam kopi unggulan dari berbagai daerah seperti Gayo, Mandheling, Lintong, Java Preanger, Toraja, Kintamani hingga Flores Bajawa.
Sebanyak 12 pelaku usaha kopi nasional ikut ambil bagian dalam pameran tersebut, mulai dari petani, koperasi, eksportir, agregator hingga pemilik kafe dan roaster.
Tak hanya mencetak potensi ekspor ratusan miliar rupiah, Indonesia juga menorehkan prestasi membanggakan melalui kompetisi Latte Art. Barista Indonesia, Joost Rolland, berhasil menempati peringkat ketujuh dari 33 peserta internasional.
Ranitya menilai pencapaian tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam industri kopi dunia.
"Capaian tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia tidak hanya sebagai produsen kopi berkualitas, tetapi juga sebagai bagian penting dari budaya dan industri kopi global," ujarnya.
Sementara itu, perwakilan Sundanika Coffee, Julianti Trisnamawan, mengungkapkan bahwa keikutsertaan dalam World of Coffee 2026 membuka peluang pasar baru bagi pelaku usaha kopi Indonesia.
"Melalui pameran ini, kami berkesempatan bertemu dengan banyak calon pembeli potensial. Saat ini, tiga buyer telah memasuki tahap permintaan sampel untuk produk green bean kami," kata Julianti.
Ia menambahkan bahwa pasar global kini semakin memperhatikan aspek keterlacakan produk dan cerita di balik proses produksi kopi.
"Para calon pembeli potensial mencari kopi yang memiliki traceability yang jelas dan cerita petani yang kuat, sehingga ini menjadi masukan bagi jenama kami," tuturnya.
Keberhasilan Indonesia di World of Coffee 2026 menjadi sinyal positif bagi peningkatan ekspor kopi nasional sekaligus memperkuat reputasi kopi Nusantara sebagai salah satu yang terbaik di dunia. (Red/Ril)

