Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Enam Dekade KAHMI, Saatnya Memperkuat Persatuan dan Kemandirian Ekonomi Umat

Minggu, Oktober 04, 2026 | 09:55 WIB Last Updated 2026-10-04T02:55:42Z


indotimes.id, PALEMBANG — Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) memasuki usia ke-60 tahun. Momentum enam dekade tersebut diperingati melalui Milad 60 Tahun KAHMI untuk Kedaulatan Bangsa dengan mengusung tema “Membangun Kemandirian Ekonomi dan Memperkuat Persatuan Umat” di Grand Atiyasa Convention Center Palembang, Sabtu (3/10/2026).


Kegiatan tersebut dihadiri Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) Dr. H. Ahmad Doli Kurnia Tandjung, S.Si., M.T., Ketua Umum Majelis Wilayah (MW) KAHMI Sumatera Selatan H. Joncik Muhammad, serta sejumlah alumni dan kader HMI dari berbagai daerah.


Ahmad Doli mengatakan, tingginya antusiasme alumni dan kader HMI yang menghadiri kegiatan tersebut menunjukkan bahwa KAHMI masih memiliki daya tarik sekaligus terus berkembang di tengah masyarakat.


“Saya hadir di Palembang karena diundang dalam rangka Milad KAHMI ke-60. Saya melihat antusiasmenya luar biasa. Senior-senior dan kader HMI dari berbagai cabang hadir,” kata Ahmad Doli.


Menurutnya, kehadiran peserta dalam jumlah besar menunjukkan organisasi tersebut terus tumbuh dan semakin matang. KAHMI, kata dia, tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi para alumni, tetapi juga harus mampu mengambil peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


“Ini menunjukkan organisasi terus tumbuh, semakin dewasa, diminati dan dikenal masyarakat,” ujarnya.


Memasuki usia enam dekade, Ahmad Doli berharap para alumni HMI semakin matang dalam berpikir maupun bersikap. KAHMI juga diharapkan mampu menghadirkan gagasan dan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.


“Kita berharap semakin matang dalam berpikir dan memberikan solusi terbaik bagi bangsa, negara dan umat. Semakin matang dan dewasa dalam bersikap,” katanya.


Ia juga menekankan pentingnya KAHMI merangkul seluruh potensi yang ada di tengah masyarakat. Menurutnya, kekuatan alumni HMI tidak hanya terletak pada jumlah, tetapi juga pada kemampuan mengonsolidasikan berbagai latar belakang dan potensi untuk kepentingan yang lebih besar.


“Kita harus merangkul semua potensi umat dan bangsa untuk sama-sama memberikan kontribusi bagi umat, bangsa dan negara Indonesia,” tegasnya.


Joncik: Usia 60 Tahun Harus Semakin Dewasa


Sementara itu, Ketua Umum MW KAHMI Sumsel H. Joncik Muhammad mengatakan, usia 60 tahun merupakan fase kematangan bagi sebuah organisasi. Karena itu, KAHMI harus mampu berpikir jauh ke depan dan memastikan keberadaannya memberikan manfaat bagi kader HMI maupun alumni KAHMI.


“Alhamdulillah, usia KAHMI sudah matang, 60 tahun. Ini usia dewasa. Kalau orang sudah 60 tahun, tentu berpikirnya harus jauh ke depan. Bagaimana seluruh kader mendapatkan manfaat dari KAHMI dan HMI,” kata Joncik.


Ia mengingatkan seluruh kader dan alumni HMI agar mengedepankan gagasan dan intelektualitas dalam menghadapi berbagai persoalan, bukan mengandalkan kekuatan fisik.


“Tidak boleh menggunakan otot. Kita harus mengedepankan pemikiran,” ujarnya.


Joncik menilai tingginya kehadiran alumni dan kader HMI dalam kegiatan Milad ke-60 KAHMI di Palembang menjadi sinyal positif. Terlebih, persiapan kegiatan tersebut disebut berlangsung relatif singkat, namun mendapat respons besar dari para alumni dan kader.


“Kader KAHMI banyak di sini, kader HMI juga banyak. Acara ini sebenarnya dadakan, tetapi ramai yang datang. Diskusinya juga luar biasa,” katanya.


Bicara Politik dan Pilkada


Dalam kesempatan tersebut, saat awak media menanyakan kiprah kader KAHMI dan HMI dalam politik, Joncik menyebut banyak tokoh politik dan pimpinan partai yang memiliki latar belakang HMI. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan besarnya kontribusi kader HMI dalam kehidupan politik nasional maupun daerah.


“Petinggi dan pimpinan partai banyak yang berasal dari HMI. Tujuan HMI jelas, yakni memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara,” katanya.


Terkait dinamika politik di Sumatera Selatan, Joncik mengatakan pembahasan mengenai pemilihan gubernur masih cukup panjang. Ia mengaku sempat berdiskusi dengan Ahmad Doli mengenai kemungkinan perubahan mekanisme pemilihan kepala daerah menyusul perkembangan regulasi dan putusan Mahkamah Konstitusi.


“Perkembangan politik di tingkat Sumsel masih lama, Pilgub juga masih lama. Saya berdiskusi dengan adinda Doli,” ujarnya.


Joncik mengatakan, desain keserentakan pemilu ke depan masih menjadi pembahasan. Menurutnya, mekanisme pemilihan presiden, legislatif hingga kepala daerah masih berpotensi mengalami perubahan sesuai perkembangan regulasi dan keputusan Mahkamah Konstitusi.


“Pileg, pilpres dan pilkada itu masih menjadi rancangan. Kemungkinan besar gubernur dipilih DPRD, sementara untuk kabupaten dan kota masih tarik-menarik,” katanya.


Namun, Joncik menegaskan bahwa pandangan tersebut merupakan pendapat pribadinya. Ia mengaku pernah mengikuti proses pilkada langsung, namun secara pribadi saat ini berpandangan bahwa pemilihan gubernur melalui DPRD dapat menjadi salah satu opsi.


“Saya pribadi berpendapat, saya setuju keterwakilan DPRD untuk pemilihan gubernur. Saya pernah ikut pilkada langsung di pilkada kabupaten, tetapi menurut saya pribadi bagus keterwakilan di DPRD untuk pilgub,” pungkasnya.

(Yanti)

×
Berita Terbaru Update