Sidang Isbat Tetapkan 1 Ramadan 19 Februari 2026, Nasaruddin Umar: Perbedaan Jangan Jadi Alasan Umat Terpecah
![]() |
| Foto: youtube Kemenag. |
Dalam konferensi persnya, Nasaruddin mengakui adanya potensi perbedaan penetapan awal Ramadan di tengah masyarakat. Namun ia menegaskan, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan perpecahan di kalangan umat Islam.
“Seandainya ada di antara kita, warga kita umat Islam yang mungkin akan melakukan hal berbeda sesuai keyakinannya masing-masing, kami juga mengimbau kepada segenap masyarakat, mari perbedaan itu tidak menyebabkan kita berpisah atau berbeda dalam artian negatif,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, Indonesia sudah sangat berpengalaman menghadapi perbedaan dalam penentuan awal Ramadan. Ia menilai perbedaan justru menjadi bagian dari kekayaan dan keindahan dalam kehidupan berbangsa.
“Perbedaan itu sebagai satu konfigurasi yang sangat indah. Indonesia sudah sangat berpengalaman berbeda tapi tetap utuh dalam suatu persatuan yang sangat indah,” ungkapnya.
Hilal Belum Penuhi Kriteria MABIMS
Keputusan sidang isbat didasarkan pada hasil hisab dan rukyat yang menunjukkan posisi hilal belum memenuhi kriteria yang ditetapkan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
“Secara hisab data hilal hari ini tidak memenuhi kriteria hilal MABIMS,” jelasnya.
Berdasarkan kesepakatan MABIMS, imkanur rukyat dinyatakan terpenuhi apabila hilal memiliki ketinggian minimal 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Karena syarat tersebut belum terpenuhi, maka disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
“Disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” tegas Nasaruddin.
Dengan penetapan ini, umat Islam di Indonesia diimbau untuk menyambut Ramadan dengan penuh kebersamaan, meskipun terdapat perbedaan pandangan dalam metode penentuannya. (Red)
